8 Juni 2011

PELIHARALAH AIR MATAMU

Air muka kita adalah cermin hati.Dan tangisan yang muncul karena takut kepada Allah adalah tangisan paling tulus yang ditampikan dari kondisi jiwa.Dialah terjemahan paling kuat tentang apa yang ada di dalam hati.Pernahkah kita menangis karena takut kepada Allah saudaraku?
Dahulu orang-orang shalih mengungkapkan betapa kenikmatan yang mereka rasakan dari air mata yang menetes karena takut kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.Mereka menyebutkan ,dari sanalah akan turun rasa tenang,kasih sayang Allah,akan ditulis banyak kebaikkan dan akan diangkat derajat orang yang melakukannya.Lihatlah bagaimana ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengatakan,”Air mataku menetes karena takut kepada Allah ,itu lebih kusukai daripada bershadaqah seribu dinar”.
Tangisan karena Allah adalah salahsatu tujuh tangisan yang disebutkanYazid bin Maisarah rahimahullah.”Tangisan senang,tangisan sedih,tangisan takut,tangisan riya,tangis sakit,tangis syukur,tangis takuta karena Allah.”

Saudaraku,
Menangis karena takut kepada Allah,menangis karena syukur kepada Allah,semua benyuk tangisan karena Allah subhanhu Wa ta’ala merupakan salahsatu sikap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.Dengarlah hr ibnu hibban dari ksah ubaid bin umar rahimahullah,ketika ia bertemu denganistri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ,Aisyah radhiyallaahu ‘anha dan bertanya:”Wahai ‘Aisyah ,Beritakanlah kepadaku ,saat-saat paling engkau kagumi dari hidup Rasullah shallallaahu ‘alaihi wasallam! ‘Aisyah terdiam agak lama,lalau berkata,”Suatu malam ,Rasul pernah mengatakan wahai ‘Aisyah ,biarkan aku menyembah Allah subhanahu Wa ta’ala malam ini..” ‘Aisyah mengatakan,”Demi Allah aku ingin sekali berada di dekatmu.Tapi aku juga sangat ingin dengan sesuatu yang menyenangkanmu.”Rasulullah lalu pergi berwudhu dan mendirikan shalat.’Aisyah lalu menceritakan bahwa sepanjang shalatnya ,”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terus menangis.”Dijelaskannya,”Rasul saat duduk dalam shalatnyaterus-menerus menangis sampai basah jenggotnya.Lalu beliau tetap menangis sampai aiar matanya menyentuh tanah.” Hingga datanglah Bilal mengumandangkan ‘adzan subuh.Saat Biilal melihat Rasul;ullah menangis ,iapun bertanya,”Wahai Rasulullah ,kenapa engkauy menangis?Bukankah Allah subhanahu Wa ta'ala telah menhampuni seluruh dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur? Sungguh mala mini telah turun firman Allah subhanahu wata’ala .Celakalah orang yang membacanya tapi ia tidak memikirkan klandungannya:”Inna fiy khalqissamaawaati wal ardhi . . . .”(QS Ali Imran:190-191).

Saudaraku,
Itulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.Itulah air matanya yg menetes dalam shalatnya.Itulah wujud ketakutannya.wajarlah jika malik bin Dinar pernah menegur dirinya karena susah menangis.Suatu ketika Malik bin Dinar berbicara,lalu menangis tapi sulit menangis.Malik bin Dinbar lalu memukul pahanya dan mengatakan,”menangislah wahai Abu Basyar.Sungguh samapai kepadaku bahwa seorang hamba akan terus menangis sampai turun kasih Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya ,lalu Dia membebaskan dirinya dari neraka.”

Saudaraku,
Pernahkah kita mengalami saat-saat yang dikatakan mereka sangat indah itu?Adakah kita diantara orang-oramng yamng menangis kjarena Allah?Pandangan dan pikiran orang-orang shalih,selalu saja mengacu pada kehidupan akhirat sesuadah kehidupan dunia.Mereka begitu memahami bahwa kehidupan akhirat setelah menjalani kehidupan dunia ,adalah perjalanan penuh misteri .Mereka sangat mengerti bahwa tahap kehiddupan aklhirat merupakan fase hidup yang menakutkan,bila tidak ditempuh dengan perbekalan yang cukup.Itulah yang mereka sadari dan mereeka pikirkan.
Hasan al Basri suatu ketika melewati seorang pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak.Pemuda itu sedang duduk ditengah teman-temannya.Hasan al Basri menedekatinya dan bertanya,”Anak muda,apakah engkau telah melewati ash shirat (jembatan)?” Pemuda itu menjawab,”Belum”.Hasan al Basriy bertanya lagi,”Apakah engkau tahu kelak disurga atau di neraka kah tempat kembalimu?” Pemuda itu menjawab lagi,”Tidak tahu”.Hasan al basri lalu mengatakan,”Mengapa engkau tertawa sampai seperti ini?!”.
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu menangis diujung hayatnya ketika ia sakit,juga menangis.Orang-oreang yang menjenguknya bertanya,”Apakah yang membuatmu menangis?” Ia mengatakan,”Aku tidak menangisi dunia kalian ini.Aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku tempuh,sedikitnya perbekalan yang aku bawa.Perjalananku akan berakhir pada surga atau neraka.Aku tidak tahu dimana dari keduanya yang akan menjadi tempatku…?!”

Saudaraku,
Seperti itulah kegelisahan dan ketakutan orang-orang shalih.Kita memang harus mempunyai rasa mengagungkan Allah subhanau Wa ta’ala.Kita memang harus menanamkan rasa takut kepada Allah subhanahu Wa ta'ala.Kita harus menjadi orangh yang dating mengahadap kepada Allah dengan membawa sesuatu yang baik.Seperti nasihat Umar bin Abdul Aziz kepada Abu Jaudi Harits bin Umar rahimahullah,”wahai Abu jaudi,peliharakah air amata yang ada di pipimu untuk Allah”.

Sauadaraku,
Sungguh Rasuluillah shallallaahu ‘alaihi wasallam berpesan,”Takkan tersentuh api neraka ,seseorang yang menangis karena takut kepada Allah . . . “ (HR Turmudzi).Itulah sebabnya ,Muhammad Bin Munkadir rahimahullah selalu mengusap janggut dan wajahnya dengan air matanya.Ia mengatakan,”Saya mendengar bahwa neraka takkan melahap benda yang pernah terkena air mata yang keluar karena Allah.”
Berapa banyak tetesan air mata kita yang keluar selain karena Allah?berapa banyak tetesan mata kita yang jatuh karena takut kepada Allah?
(sumber:Majalah tarbawi Edisi 160 Th.8/Rajab 1428 H

4 Juni 2011

HADIST

Hadist riwayat Abu Hurairah R.A ia berkata : aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Semua umatku akan ditutup segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Maksud dalam kategori maksiat terang-terangan adalah bila seseorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya) : Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari, sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah SWT darinya. (Shahih Muslim No. 5306).

1 Juni 2011

TAWAKAL PINTU SEMUA REZEKI

Kemasyghulan mengejar kebutuhan duniawi kerap membuat orang lupa berserah diri kepada Allah. Padahal tawakal adalah sumber harapan yang akan memberi kekuatan, dasar ketahanan, dan kekokohan seseorang menghadapi kehidupan. Antrian panjang angkutan perkotaan (angkot) di terminal penghubung Kampung Melayu, Jakarta Timur, setiap hari nyaris terjadi dan sering membuat kemacetan jalan. Ribuan para pekerja kantoran yang menuju wilayah pusat kota melalu rute tersebut pun harus bersabar terhambat tiba di tempat kerja.
Setiap pagi sejak pukul 6.30 satuan polisi rutin menertibkan jalur tersebut, dan mengusir pengemudi ”bandel” yang masih saja mangkal, walau sudah tahu jalan di belakangnya macet karena ia berhenti atau ngetem seenaknya.
Pemandangan itu terus berlangsung, entah sampai kapan akan berubah. Karakter supir angkot yang seenaknya berhenti atau ngetem sembarangan dengan ”buntut” mobilnya mengganggu lalu lintas, sudah menjadi hal biasa di Ibu Kota. Tiada peduli dengan kenyamanan pengendara lain.
Berbanding kontras dengan Mesir, negeri seribu menara yang juga banyak memiliki angkot, atau dalam bahasa lokal disebut Eltramco. Ratusan angkot ini melayani jalur satu trayek, tapi jarang sekali terlihat mereka kebut-kebutan berebut penumpang, ngetem sembarangan menunggu penumpang, apalagi ”mengoper” atau mengalihkan penumpang yang sedikit di kendaraannya ke angkot lain.
”Tawakkal ’alallâh,” begitu ucapan yang sering keluar dengar dari mulut para pengemudi maupun penumpang angkot di negeri Fir’aun itu. Artinya, berserah diri (tawakal) saja kepada Allah. Rejeki pasti akan datang kalau memang sudah tiba waktu dan masanya. Mengutip istilah orang Betawi, ”Rejeki gak bakal kemane-mane, kok.”
Mungkin mereka ingat betul dengan ungkapan bijak ahli tasawuf yang mengatakan, ”Kalau Allah ingin menurunkan sebuah topi untuk kepala hamba-Nya, pasti Dia tak akan menurunkannya kepada kepala orang yang sangat berharap mendapatkannya.”
Maksudnya, sejauh dan sebanyak apapun permintaan yang seseorang sangat diharapkan, apalagi melebihi kapasitas dan kewajaran, pasti akan sulit didapat. Rejeki dan karunia Allah akan datang kepada orang yang justru tidak obsesif mengharap pemberian karunia-Nya.
Meminta dalam doa maupun asa kepada Tuhan boleh-boleh saja, tapi jangan berlebihan. Serahkan, pasrahkan, dan legowokan ketetapan untuk memberi karunia itu kepada Allah.
Para sopir angkot di Mesir sangat penuh tawakal terhadap rejeki yang akan datang kepada mereka. Tak perlu lama ngetem, mereka pasti dapat penumpang di tengah jalan yang memang tiada habis.
Kota Bogor di Jawa Barat yang dulunya sejuk nan asri, kini pun telah menjadi kota ”sejuta angkot”, dengan karakter para sopir yang tak jauh berbeda dengan sopir-sopir angkot di terminal Kampung Melayu. Ngetem berlama-lama, saling salip berebut penumpang, dan sebagainya, sudah menjadi pemandangan harian.
Tak ada rasa tawakal untuk mendapat rejeki dari penumpang yang akan datang. Meski sadar sudah mengganggu kenyamanan lalu lintas orang lain, atau membuat gusar penumpang di angkotnya yang menunggu ingin lekas sampai ke tujuan, mereka tetap ”ngotot” mengejar rejeki.
Hakikat Tawakal
Tawakal berasal dari akar kata “wakala-wakâlah”, yang berarti memilih wakil. Seorang wakil yang baik, dapat dilihat dari empat sifat. Yaitu pengetahuan yang cukup, terpercaya, mempunyai kemampuan, serta penuh perhatian. Dan memilih wakil untuk sebuah pekerjaan, dilakukan seseorang ketika ia tak mampu bertahan sendirian. Kekuatan orang lain pun digunakan untuk membantunya menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Tawakal kepada Allah berarti manusia menjadikan Tuhannya sebagai wakil dalam menghadapi persoalan, musibah-musibah kehidupan, musuh, para penentang, dan masalah-masalah yang sedang dihadapi.
Ketika seseorang sampai pada jalan buntu dalam upaya mencapai tujuan, dan tak lagi mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan dan memecahkan persoalan, ia akan menyandarkan diri kepada Allah tanpa berhenti berupaya.
Sekalipun ia mampu melakukan pekerjaan, seorang mukmin tetap akan menganggap bahwa faktor utama semua keberhasilan pekerjaanya adalah Allah, Sang Sumber Kekuatan.
Anonim tawakal kepada Allah adalah menyandarkan diri kepada selain Dia. Seperti hidup bagai parasit yang selalu bergantung kepada orang lain dan tidak mempunyai kemandirian.
Para ulama akhlak berkata, “Tawakal merupakan sikap yang dihasilan secara langsung dari tauhîd fi’liyyah kepada Allah, karena segala gerak, usaha dan fenomena di dunia ini pasti terkait dengan Penyebab Utama, yaitu Allah. Oleh karena itu, manusia mukmin akan menganggap bahwa seluruh kekuatan yang ada di dunia berasal dari Allah.”

Faidah Tawakal
Ketika kaum muslimin tengah mengalami pukulan berat di medan Perang Uhud, dan mendengar berita bahwa para musuh yang awalnya telah meninggalkan medan perang akan kembali menyerang, dengan bekal tawakal dan keimanan kepada Allah, kaum muslimin melawan tanpa rasa takut, dan berhasil memenangi peperangan agung itu. (Qs. Âli ‘Imrân [3]: 173)
Kisah tersebut hanya sebuah contoh nyata yang Allah paparkan dalam ayat-ayat al-Qur`an. Masih banyak lagi kisah sukses yang diraih orang yang mau bertawakal dalam segala usaha dan menghadapi segala upaya Allah kisahkan dalam Kitab Suci-Nya. (Lihat Qs. Âli ‘Imrân [3]: 122, Ibrâhim [14]: 12, atau Âli ‘Imrân [3]: 159).
Bahkan, al-Qur’an menyatakan, orang-orang yang akan mampu bertahan dan bisa keluar dari godaan setan, hanyalah orang-orang yang beriman dan bertawakal. “Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (Qs. an-Nahl [16]: 99)
Intinya, dengan tawakal, seseorang tak akan merasa lemah menghadapi beratnya persoalan kehidupan. Karena dengan bersandar dan menggantungkan diri kepada kekuatan Allah yang tiada batas, ia justru telah menyatakan diri akan selalu menang.
Sebagai figur utama kaum mutawakkilîn (orang-orang yang bertawakal), Rasulullah SAW telah meneladankan bagaimana cara jika ingin mencapai sebuah tujuan. Beliau tak pernah lalai dari rencana dan siasat yang jitu, taktik yang cermat, dan berbagai peralatan dan sarana perlengkapan eksternal menyongsong suatu tujuan.
Beliau meneladankan, bahwa tawakal bukan hanya berserah diri, tapi harus disertai usaha maksimal menggapai sebuah hasil usaha. Dan tawakal ala beliau, bukan sikap berdiam diri di sudut kamar dan hanya mengandalkan tengadah tangan tanpa perjuangan dan jerih payah.
Dari teladan beliau tersimpulkan, berbekal tawakal kepada Allah, ketahanan manusia dalam menghadapi persoalan dan kesulitan hidup akan meningkat. Sebab tawakal adalah sumber harapan yang akan memberi kekuatan, dasar ketahanan, dan kekokohan seseorang.
dari:tazkiyah an-nafs